• Profile
  • Publikasi
  • News
  • Komunitas

PokjaPesisir.com
Home Kabar Pesisir Nelayan Balikpapan Keluhkan Harga Udang

Main Menu

  • Beranda
  • Profile
  • Aktivitas
  • Kabar Pesisir
  • Siaran Pers
  • Gallery
  • Produk Perikanan
  • Peta Penangkapan Ikan
  • Informasi Cuaca dan Iklim
  • Tulisan
  • Download

Designed by:
SiteGround web hosting Joomla Templates
Nelayan Balikpapan Keluhkan Harga Udang PDF Cetak E-mail
Kamis, 05 November 2009 07:17

KabarIndonesia - Balikpapan, Nelayan Manggar Balikapapan, kaltim mengeluhkan harga udang ekspor hasil tangkapan Nelayan setempat sangat murah. Bahkan Nelayan tidak bisa menutupi biaya operasionalnya melaut dengan hasil tangkapannya.

Hasil tangkapan Nelayan bisa mencapai 10 ton tiap minggunya. Dan setiap Nelayan memilki Punggawa (bos, red), punggawa tersebut membeli udang dari Nelayan dengan harga di bawah harga pembelian perusahaan setempat. Bukan hanya itu, para Nelayan Manggar mengeluhkan sikap perusahaan yang membeli udang Nelayan dengan harga murah. salah seorag Nelayan Manggar, Balikpapan Laode mengatakan, ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena udang hasil tangkapannya disetor dengan punggawa. Punggawapun tidak bisa mematok harga diatas perusahaan udang setempat karena, punggawa hanya bisa menjual udang pada perusahaan setempat.


Harga udang saat ini untuk jenis tiger seharga Rp. 145.000,- perkilogram, udang kelas high seharga Rp. 65.000,- perkilogram, dan udang bintik hanya Rp. 45.000,- perkilogramnya. Laode mengatakan, harga udang beberapa tahun lalu masih mahal ketimbang harga saat ini. "Seperti tahun 1998, kami masih bisa hidup senang-senang karena harga udang dan biaya operasional  bisa tertututpi. Bahkan itupun bisa membiayai keluarga kami", ungkap Laode.

Selain harga udang murah, nelayan setempat juga kewalahan mendapatkan BBM, seperti solar dan minyak tanah. Satu Nelayan bisa menghabiskan 20 liter solar permalam (satu malam, Red) melaut. Terkadang ia memakai minyak tanah untuk mengimbangi pengeluaran mereka. 

senada dikatakan Nelayan lain Amiruddin mengatakan, akhir-akhir ini ia lebih banyak memilih tidak melaut karena harga BBM kini juga mulai naik akibat kelangkaan beberapa waktu lalu. Kini ia terkadang rugi, karena hasil tangkapannya tidak bisa menutupi biaya operasionalnya. 

Amiruddin mengharapkan, pemerintah Kota Balikpapan bersama pertamina melakukan pantauan untuk menertibkan suply BBM akhir-akhir ini. Secara khusus ia meminta agar Masyarakat Nelayan prioritas mendapatkan jatah BBM.

"Yah, kalau begini terus kami tidak bisa hidup. Biaya hidup saat ini juga makin mahal di tambah terus melonjaknya harga barang-barang sembako lainnya. Padahal kami ini kan masyarakat kecil makan seharipun kami ukur," ucap Amir.       

ia meminta agar gejolak harga udang dan BBM cepat di benahi oleh pemerintah Kota. Pemerintah kota Balikpapan harus memberi standar harga udang yang dibeli oleh perusahaan setempat. Patokan harga tersebut menjadi referensi dan pegangan setiap perusahaan dalam membeli udang Nelayan.

 

LAST_UPDATED2
 
Joomla SEF URLs by Artio

SEO by AceSEF

Obrolan

ShoutMix chat widget
Pokja Pesisir, Powered by Joomla! and designed by SiteGround web hosting

valid xhtml valid css