• Profile
  • Publikasi
  • News
  • Komunitas

PokjaPesisir.com
Home Siaran Pers

Main Menu

  • Beranda
  • Profile
  • Aktivitas
  • Kabar Pesisir
  • Siaran Pers
  • Gallery
  • Produk Perikanan
  • Peta Penangkapan Ikan
  • Informasi Cuaca dan Iklim
  • Tulisan
  • Download

Designed by:
SiteGround web hosting Joomla Templates
Walhi-Pokja pesisir
Aliansi Manado Desak Pemerintah Pertegas Identitas Negeri Kelautan PDF Cetak E-mail
Jumat, 20 November 2009 00:00

Kurang sebulan konferensi WOC-CTI berakhir, krisis Ambalat kembali mencuat, nelayan-nelayan tradisional masih terus sulit melaut, baik akibat gelombang tinggi maupun pembuangan limbah industri dan pertambangan yang tidak juga berhenti. Bahkan dalam 5 bulan terakhir, rata-rata 10 nelayan tradisional setiap bulannya ditangkap oleh petugas keamanan Malaysia. Tidak adanya kemajuan dalam penyelesaian sejumlah krisis tersebut, menegaskan wujud kegagalan diplomasi Pemerintah Indonesia selama WOC-CTI berlangsung.


Tema “Perubahan Iklim dan Laut” WOC-CTI tak membekas bagi kebaikan nelayan tradisional dan masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Hal ini tampak pada aksi blokade menutup jalan pantai di Kelurahan Karangria oleh ratusan nelayan Pantai Karangria, Manado, Sulawesi Utara, pada Kamis (4/6) lalu. Mereka menolak pembangunan jalan pantai Boulevard II hingga kawasan Molas.

”Tak ada pembahasan dan hasil nyata yang ditawarkan pemerintah paska WOC-CTI untuk dimanfaatkan nelayan tradisional dan masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, untuk beradaptasi dengan perubahan iklim. Sebaliknya, upaya memasifkan agenda liberalisasi sektor kelautan dan perikanan yang mengemuka,” ujar M. Riza Damanik, Sekjen KIARA.

Yang memalukan, kesepakatan WOC-CTI yang meniadakan keterlibatan nelayan tradisional dan masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil ini diusung oleh Delegasi Indonesia (DELRI) dalam Bonn Climate Change Talk II, 2 – 13 Juni 2009. “Tegasnya, banyak persoalan esensial kelautan yang luput dari perbincangan utama, tak terkecuali sengketa wilayah di perbatasan seperti yang kini melibatkan Indonesia dan Malaysia di perairan Ambalat”, ujar Berry Nahdian Furqon, direktur eksekutif Nasonal Walhi.

“Penggalangan dukungan politis dari banyak negara untuk memasukkan agenda mitigasi dan adaptasi perubahan iklim melalui laut dan terumbu karang guna mendapat restu UNFCCC dan Climate Fund amat kentara dalam WOC-CTI. Justru, mengabaikan fakta-fakta pesisir dan laut, macam perluasan reklamasi di sepanjang pantai nusantara,” jelas Selamet Daroyni, Deputi Direktur Institut Hijau Indonesia.

Sebelum WOC-CTI, Aliansi Manado telah berulang kali mengingatkan pemerintah dan masyarakat luas. “WOC-CTI mengancam hak-hak konstitusi nelayan tradisional dan kedaulatan negara; membawa Indonesia ke arah perdagangan bebas konservasi yang mengancam keragaman hayati dan keselamatan masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil; dan beresiko memperburuk krisis kelautan dan perikanan kita,” tambah Siti Maimunah, Koordinator Jaringan Advokasi Tambang.

“Nelayan tradisional meyakini kegiatan WOC-CTI bukanlah konferensi yang memikirkan dampak perubahan iklim terhadap nelayan tradisional, tetapi lebih sebagai upaya untuk menggantikan media laut sebagai aset masyarakat lokal, menjadi aset negara-negara industri, dan bahkan untuk diperdagangkan, ujar Dedy Ramanta, Sekretaris Nasional KNTI.

Aliansi Manado menyerukan Pemerintah RI segera mengembalikan dan mempertegas identitas Indonesia sebagai negara kelautan. Salah satunya dengan memastikan bahwa laut merupakan ruang hidup dan berjuang, bukan sebagai lokasi jarahan, tempat pembuangan limbah negara lain. Apalagi menebus dosa pencemar iklim negara-negara industri. Pemerintah harus segera meningkatkan jaminan keselamatan dan kesejahteraan nelayan tradisional dan masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, menerapkan kebijakan ekonomi-politik yang menjamin mereka memperoleh rasa aman dari ancaman bencana perubahan iklim.

Aliansi Manado

Aliansi Manado adalah koalisi masyarakat sipil yang menaruh peduli terhadap keberlanjutan ekosistem laut dan ketersediaan sumber dayanya dalam menunjang keberlanjutan hidup umat manusia. Aliansi Manado terdiri dari KIARA, JATAM, WALHI, WALHI Sulawesi Utara, KELOLA, KPNNI, COMMIT, SEAFISH, Yayasan Suara Nurani, dan Ammalta.

Untuk informasi selengkapnya, silakan menghubungi:

M. Riza Damanik, Sekjen KIARA: 0818 773 515
Siti Maimunah, Koordinator JATAM: 0811 920 462
Berry Nahdian Furqan, Direktur Eksekutif Nasional WALHI: 0812 5110 979
Selamet Daroyni, Deputi Direktur Institut Hijau Indonesia: 0815 8419
Dedy Ramanta, Sekretaris Nasional Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia: 081314919254

 
WOC-CTI, Syarat Pelanggaran HAM dan Politik Dagang Karbon PDF Cetak E-mail
Jumat, 15 Mei 2009 00:00

Samarinda, Kalimantan Timur - Pertemuan World Ocean Conference (WOC)  CTI (Coral Triangle Initiative) di Manado, Sulawesi Utara syarat akan pelanggaran Hak Sipil dan Politik, Ekonomi, Budaya dan Sosial. Terbukti dengan ditangkapnya dan ditahannya sejumlah Aktivis Walhi dan dideportasinya nelayan tradisional dari berbagai Negara di Asia yang hadir pada pertemuan WOC -CTI.

Pertemuan WOC juga menghasilkan DEKLARASI KELAUTAN MANADO dimana substansinya telah menisbikan kedaulatan pangan, produktifitas perikanan dan kelautan dibawah ambisi konservasi, serta memberikan kesempatan kepada Dunia Internasional untuk MENGKAPLING wilayah kelautan Indonesia yang berdampak pada hilangnya mata pencaharian lebih dari 27 juta orang, termasuk nelayan di Kalimantan Timur yang jumlahnya sekitar 30% dari total jumlah masyarakat Kalimantan Timur (Pokja Pesisir & Nelayan Kaltim, 2006). Kepentingan politik dagang karbon di pesisir dan laut juga menjadi prioritas yang hanya menguntungkan Negara-negara maju (annex 1), Lembaga Keuangan Internasional, pebisnis sumber daya alam dan Lembaga Konservasi Internasional yang beroperasi di Negara dunia ketiga termasuk Indonesia.

Indikasi pasar bebas konservasi semakin terkuatkan jika dihubungkan dengan program BBOP (Business and Biodiversity Offset Program) kerjasama Lembaga Konservasi Internasional (WWF, TNC, CI dan lainnya) dengan Lembaga Keuangan dan Perusahaan Migas (Shell, Rio Tinto, Newmont dan Anglo American). Program ini tentu saja menjadi legitimasi pembongkaran kawasan konservasi menjadi pengerukan sumber penghidupan rakyat melalui skema KOMPENSASI KEANEKARAGAMAN HAYATI (Biodiversity Offset) dan melegalkan pembuangan limbah dan tailing ke laut di Negara-negara dunia ketiga dan kepulauan. Persoalan substansi yang dilupakan dari WOC-CTI dimulai dari hak-hak konstitusional nelayan tradisional dan masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir dan pulau kecil sehingga akan berakibat kepada semakin tersingkirnya nelayan sebagai penyedia protein ke jurang kemiskinan.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Kalimantan Timur sendiri MENOLAK DEKLARASI KELAUTAN MANADO, mengingat deklarasi tersebut merupakan bagian dari skenario pemiskinan Nelayan dan Masyarakat yang berdiam diwilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, dihasilkan dengan penuh pelanggaran hak-hak sipil, politik, social, budaya dan ekonomi dan konservasi hanya dijadikan tameng untuk mengeksploitasi sumber-sumber penghidupan rakyat serta menggadaikan sumber kelautan Indonesia dengan kompensasi keanekaragaman hayati melalui skema jual-beli karbon dilautan yang hanya menguntungkan Negara maju, lembaga keungan internasional, lembaga konservasi internasional dan koorporasi.

Hutan Kalimantan Timur telah diperdagangkan dengan skema REDD (Reduce Emission for Degradation and Deforestation), pada akhirnya pesisir dan laut Kalimantan Timur juga akan diperdagangkan dengan skema yang entah apa lagi sebagai hasil dari DEKLARASI KELAUTAN MENADO.

15 Mei 2009
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Kalimantan Timur & POKJA Pesisir-Nelayan
Kontak person : Isal Wardhana / Ilham Jaya Telpon : +62541-733837 HP : +6281347120807 / 081350169503

 


Joomla SEF URLs by Artio

SEO by AceSEF

Obrolan

ShoutMix chat widget
Pokja Pesisir, Powered by Joomla! and designed by SiteGround web hosting

valid xhtml valid css